Daerah di Kaltim Ini Dihantui Banjir, Keluhkan Minim RTH

26 April 2022 17:00

GenPI.co Kaltim - Bencana banjir masih menghantui wilayah Kota Tanah Grogot di Kabupaten Paser karena minimnya ruang terbuka hijau (RTH).

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Paser Acmad Safari.

Menurutnya, sebuah perkotaan perlu RTH lebih banyak lagi untuk menyerap air hujan.

BACA JUGA:  108 Anak Kalimantan Bersaing Tembus Skuad EPA Borneo FC

"Agar penyerapan air hujan masuk ke tanah lebih banyak. Diperlukan penanaman pohon di area perkotaan,” kata Safari, Senin (25/04/2022).

Dia mengatakan penyebab lainnya, karena kondisi drainase kurang berfungsi sehingga tidak bisa menahan debit air.

BACA JUGA:  Kalimantan Timur Membuka Peluang Pertukaran Pemuda ke Australia

Safari menjelaskan, banjir yang terjadi pada Jumat (22/04) lalu, tidak menggenangi semua wilayah perkotaan Tanah Grogot, hanya lokasi-lokasi tertentu.

Hasil peninjauan DLH Pser, beberapa lokasi yang terendam banjir cukup parah ada  di Jalan Sultan Khaliludin atau kawasan Rawasari dan di Kawasan Balai Benih Jalan Piere Tandean hingga Desa Jone dan Desa Senaken.

Kawasan yang terendam banjir parah itu tidak ada lahan terbuka yang cukup besar, atau minimnya jumlah pepohonan, yang diharapkan bisa menyerap air hujan ke tanah lebih cepat. Selain itu juga faktor padatnya pemukiman.

BACA JUGA:  IKN di Kaltim Diharapkan Buka Isolasi Masyarakat Hukum Adat

“Mengapa air hujan tidak bisa masuk dengan cepat ke dalam tanah. Bagaimana air terserap di dalam tanah, berarti perlu tanaman-tanaman untuk menyerap dan menampung air dalam jumlah banyak di kawasan terbuka hijau,” ujar Safari.

Dia menilai drainase juga menjadi masalah karena air tak bisa mengalir ke sungai.

"Kemudian kenapa anak sungai Seratai, dan Semumun, tidak bisa menampung air dalam jumlah banyak, padahal di sungai Kandilo tidak banjir. Aman-aman saja," kata dia.

Safari menilai perlu ditelaah dan dikaji lebih mendalam apakah ada faktor teknis yang mengakibatkan air tidak terserap optimal oleh tanah, seperti aliran air hujan tak mengalir lancar ke sungai.

“Saran dari teman dari pakar lingkungan, perlu dicek data dukung lingkungannya, kondisi sempadan, dan mungkin ada sumbatan-sumbatan akibat sampah yang sampai saat ini masih menjadi problematika perkotaan,” ujar Safari.(ant)

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Imam Rosidin

BERITA TERKAIT

Copyright © 2024 by GenPI.co KALTIM