
Apabila nelayan terus menangkap ikan di daerah pantai maka kehidupan nelayan tidak bisa terdongkrak untuk lebih sejahtera.
Untuk itu, nelayan perlu armada yang lebih besar untuk menangkap ikan lebih jauh. Misalnya satu KUB bergabung dalam satu kapal besar yang berisi 5 sampai 10 nelayan.
"Ini akan lebih efektif. Jalur penangkapan lebih jauh sehingga bisa mendapatkan hasil tangkapan yang lebih maksimal, nilai ekonomisnya lebih tinggi dan nelayan bisa lebih sejahtera," tuturnya.
BACA JUGA: Tersisa Dua Zona Oranye di Provinsi Kaltim, Tetap Waspada Ya
Lanjut Petrijansah, akan lebih baik lagi apabila tiap KUB bergabung membentuk satu koperasi untuk mengelola suatu usaha perikanan tangkap.
"Nah koperasi ini dijadikan persyaratan oleh pemerintah pusat untuk menerima bantuan kapal. Jadi kalau sudah terbentuk koperasi akan lebih baik lagi," sarannya.
BACA JUGA: BPBD Kaltim Akui Cuaca Sudah Tak Beraturan, Kok Bisa?
Petrijansah menambahkan, jumlah seluruh nelayan di Kaltim saat ini sebanyak 130.000 dengan nelayan utama sekitar 60.000 dan selebihnya merupakan nelayan sambilan sambilan.
"Sekarang kecenderungan nelayan banyak beralih menjadi karyawan swasta berdasarkan informasi dan bincang-bincang dengan kehidupan nelayan," katanya.
BACA JUGA: Target Investasi Kaltim Naik Menjadi Rp54 Triliun
Menurutnya ada kecenderungan nelayan lebih merasa elit ketika beralih ke perusahaan swasta seperti perkebunan sawit dan batu bara.
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News